Dalam diam
Dia yang kusebut botak,dia yang kusebut bahagiaku
Dia yang dulu hanya sebatas kakak kelas,semakin lama menjadi teman smsan
tengah malam,sempat menghilang bahkan tidak ada komunikasi samasekali lalu
kembali menjadi seseorang yang selalu ada disetiap malamku,selalu mengisi
inboxku. “ada yang hilang by ipang” hpku berdering sms dari dia untuk pertama
kalinya setelah tidak ada komunikasi,dengan lincahnya dan bingung aku membalas
“maksudnya apa kak?” “kamu tau lagunya ipang? Ada yang hilang? Ku kira kamu
sudah tidak ada lagi,ku kira kamu sudah lupa denganku” balasan sms dari dia
membuatku semakin penasaran dengan lagunya ipang..
Hari demi
hari bulan demi bulan berhubungan melalui hp dan semakin dekat menjadi
seseorang yang sangat berarti dalam hatiku,malam tahun baru menjelang 2013
untuk pertama kalinya dia bertamu ke rumah dan untuk pertama kalinya juga aku
melihatnya karena selama menjadi kakak kelasku aku tidak pernah melihatnya.
“dari mana kak? Dari apelin pacar?” ucapku untuk mengurangi rasa gugupku “dari
rumah langsung ke sini,tadi habis tidur” balasnya sambil tersenyum kecil. Aku
mempersilahkannya duduk,menawarkan minum dan cemilan,tidak panjang lebar
perbincangan kita “aku pulang dulu yah” ucap afkin kakak kelasku itu “pulang?
kenapa cepat sekali?” aku tetap berusaha menghilangkan rasa dagdigdugku “aku
mau ke rumah temen dulu,kamu jangan marah yah” afkin juga tetap dengan
senyumnya setiap menjawab pertanyaanku
2
januari 2013 hari itu menjadi hari yang sangat bahagia,dia mengungkapkan
rasanya dan memintaku untuk menjadi kekasihnya tanpa memberi waktu lagi aku
menerima untuk menjadi wanitanya. Hari-hariku terasa bahagia “Pagi soimah
sayang” pesan singkat itu yang selalu menjadi sapaan dipagi hariku,dia
menyebutku soimah karena sebelum sedekat itu “masalah buat loh” menjadi ciri
khasku. Disetiap smsan aku selalu meminta agar dia tetap menjadi
bahagiaku,tetap menjadi botakku sampai kapanpun itu. Aku memanggilnya botak karena seringnya dia
curhat soal kepalanya yang botak akibat ulah seniornya waktu menjadi maba disalah
satu sekolah tinggi di Makassar
Jarak diantara kita selalu
menjadi alasan kerinduan,dia yang kuliah di makassar sedangkan aku masih di
Bone menjalani hari-hariku sebagai anak sekolah. “soimah rindu,botak” pesan
singkat yang ku kirim ke nomor handphonenya “aku sayang kamu,aku juga rindu”
balasan darinya membuatku semakin rindu
yah meskipun dibalasnya lama. Keesokan harinya,”nomor yang anda tuju sedang
tidak aktif” setiap ku hubungi selalu kalimat itu yang ku dengar,sekitar 5 jam
kemudian hpku berbunyi “kamu di mana?” pesan dari afkin yang membuat
kekhawatiranku sedikit berkurang,”di rumah,kamu dimana? Dari tadi nomormu ga
aktif?!” balasku dengan sedikit emosi. Hpku kembali berdering tanda ada sms
yang masuk “aku di bone soimah,katanya kamu kangen” aku tersenyum membaca
balasan sms darinya. Saat bertemu dengannya tidak ada kata yang bisa
kuucapkan,tangan dingin,dada dagdigdug yah aku hanya bisa tersenyum. “tanganmu kenapa dingin?” pertanyaannya
semakin membuatku degdegan “ga tau,aku kok kenapa degdegan gini yah?!” balasku
sambil berusaha menenangkan diri. “udah kamu santai aja ketemu aku” dia sedikit
bercanda dan melanjutkan memakan bakso di warung bakso depan SMP 1.
Sebulan
hubungan kita sudah terlewati dengan susah senangnya yah susahnya yaitu kita
sering bertengkar kecil karena dia yang setelah sebulan mulai sedikit kurang
waktunya untuk berbagi kabar entah mungkin karena dia kuliah atau kesibukan
lainnya. “One two three for five six seven eight” bulan februari aku disibukkan
dengan latihan dance persiapan DBL,satu-satunya yang menjadi penyemangatku
yaitu afkin dia selalu saja memberiku kejutan dengan datang ke bone tanpa
bilang-bilang. Awal maret aku berangkat ke Makassar bersama rombongan pemain
basket SMAN Watampone,di hari pertama tanding aku tidak melihat pemilik senyum
indah itu entah dia di mana. Di hari kedua setelah tanding dia menungguku
diparkiran dekat mobil yang ku tumpangi ke gor andi mattalatta dia tersenyum
dan didepan teman-temannya dia menggenggam erat tanganku yang seperti biasa
setiap ketemu dengannya selalu tangan menjadi dingin,”Kamu lebih cantik natural
daripada makeup seperti ini” ucapnya sambil menatapku tajam yah aku hanya bisa
tersenyum mendengar perkataannya. Seminggu di makassar,saatnya pulang ke bone
Sebulan
hubungan kita sudah terlewati dengan susah senangnya yah susahnya yaitu kita
sering bertengkar kecil karena dia yang setelah sebulan mulai sedikit kurang
waktunya untuk berbagi kabar entah mungkin karena dia kuliah atau kesibukan
lainnya. “One two three for five six seven eight” bulan februari aku disibukkan
dengan latihan dance persiapan DBL,satu-satunya yang menjadi penyemangatku yaitu
afkin dia selalu saja memberiku kejutan dengan datang ke bone tanpa
bilang-bilang. Awal maret aku berangkat ke Makassar bersama rombongan pemain
basket SMAN Watampone,di hari pertama tanding aku tidak melihat pemilik senyum
indah itu entah dia di mana. Di hari kedua setelah tanding dia menungguku
diparkiran dekat mobil yang ku tumpangi ke gor andi mattalatta dia tersenyum
dan didepan teman-temannya dia menggenggam erat tanganku yang seperti biasa
setiap ketemu dengannya selalu tangan menjadi dingin,”Kamu lebih cantik natural
daripada makeup seperti ini” ucapnya sambil menatapku tajam yah aku hanya bisa
tersenyum mendengar perkataannya. Seminggu di makassar,saatnya pulang ke bone
Setelah berbulan-bulan bertahun-tahun aku tidak
berhubungan lagi dengan afkin dan selama itu juga disiksa oleh rindu,disiksa
oleh cemburu setiap kali mendengar kabarnya dari orang lain bahwa dia dekat
dengan wanita lain. Senyum indahnya,lembut tuturnya,mata
indahnya,kejutan-kejutannya selalu mengganggu disetiap hariku.
suatu hari aku menghadiri satu acara di gedung PGRI
Bone,acara yang dilaksanakan oleh salah satu organda kampus tempat afkin
kuliah. dagdigdug entah kenapa malam itu jantungku berdebar kencang lagi
seperti awal bertemu kakak kelasku itu. “Hei kamu datang sama siapa?” ucap
sosok yang 2 tahun lalu selalu membuatku degdegan “hei sama sepupuku kak” aku
menjawab sedikit kaku karena gugup,malu dan bahagia. Dia mempersilahkanku
masuk,mencarikan tempat duduk untukku. “Tuhan kenapa harus ketemu dengannya
lagi? Sudah cukup usahaku melupakannya 2 tahun ini,sudah cukup aku tersiksa
menahan rasaku tuhan.” Aku berkomatkamit dalam hati. Sekarang
aku kuliah di sekolah tinggi tempat afkin juga kuliah,dia menjadi
seniorku,untuk kuliah di tempat yang sama dengannya memang bukan hal yang
mudah. Bukan hal yang mudah harus bertemu dengan orang yang selama ini berusaha
aku lupakan,berusaha menghilangkan rasa untuknya. Bukan hal yang mudah merindu
dalam diam sampai hanya bisa menangis untuk merasa lega,melawan cemburu ketika
mendengar kabarnya telah bahagia dengan wanita lain,aku hanya bisa menatapnya
tanpa bisa menyentuhnya,aku hanya bisa menikmati senyumnya dari jauh,mendengar
suaranya saat berbicara dengan temannya bukan denganku.untuk kembali menjalin
hubungan dengannya mungkin adalah satu hal yang mustahil tapi aku percaya Tuhan
tidak akan menyimpan rasa yang amat besar di hatiku untuknya tanpa alasan.
Mungkin Tuhan belum cukup puas melihatku bersabar menahan rasaku sampai saatnya
ia mengembalikan afkin padaku,namun jika memang afkin bukan untukku lagi aku
yakin tuhan pasti menghapus perasaanku.
SOIMAH :)