Minggu, 21 Juni 2015

saksi kampus



Tepat pukul 3 pagi langit seketika menjadi indah karena warna-warni kembang api,kantuk yang tadi menyelimuti mata seketika hilang berubah menjadi semangat,tepat pukul itu juga berakhirnya masa orientasi siswa di sekolah tinggi tempatku kuliah dan aku resmi menjadi salah satu mahasiswinya yang insya allah 3,5 tahun kedepan bergelar S.Kom!
“maaf yah dik kalau ada kata maupun tingkah yang sedikit keras” kata ini terdengar dari setiap ucapan senior,mahasiswa baru hanya bisa tersenyum entah itu senyuman benci atau senyum bahagia. Setelah berjabat tangan dengan setiap senior yang berdiri berbaris memenuhi lapangan basket tempat penutupan ospek,saatnya mahasiswa mahasiswi baru bubar bersiap untuk pulang bersama kaos kaki yang lain sebelah warnanya,tas dari kantong plastik merah,kemeja putih,celana panjang dan topi dari piring plastik berwarna kuning gading.
Aku berjalan sendiri menuju gerbang dan tepat di bawah pohon dekat gerbang berkumpul semua senior yang berasal dari daerahku. “afkin” seketika hatiku degdegan mengucap namanya,dia adalah sosok yang selama ini ku sebut botak,dia yang selama ini menyiksa mengurung setiap kerinduan yang hadir,dia yang selama dua tahun setelah berpisah selalu meenjadi isi dalam setiap doaku,dia yang kupuja dalam pemendaman,dia yang selalu hadir di setiap hariku,senyumnya yang indah,tuturnya yang lembut,tatapannya yang tajam.
“Hei dari tadi aku melihatmu duduk di sana” ucap afkin dengan senyumannya,”hei masa kak?! Kamu dari tadi di sini?” aku menjawab sambil berusaha menahan gugupku. Teman-temannya mulai ngeledekin afkin melihat dia berbicara denganku. Dia mengajakku duduk ikut berkumpul dengan teman-temannya,hatiku meronta bahagia bahagia sekali. “Kamu pulang sama siapa?” kakak kelasku sewaktu SMA itu kembali bertanya,dengan cepat aku menjawab “ga tau kak nanti sama siapa” aku berucap seperti terburu-buru mungkin karena sedang degdegan. “cieeeee.... anterin tuh” “ modussss cieee” Ledekan lagi-lagi terdengar dari teman-teman afkin yang juga menjadi seniorku. “aku yang anterin,boleh? Ga papa sama orang rumahmu?” afkin bertanya dengn menatapku,tatapan yang selama ini aku rindukan “terserah kamu kak,orang di rumah juga ga papa” aku dengan tersirat menerima tawarannya.
Tidak lama kemudian aku bergegas pulang bersama mantan kekasihku itu,tidak ada pembahasan dalam perjalanan,kaku dan hampa. “Makasih yah kak” aku turun dari motornya tepat di depan rumah “iya aku balik yah” afkin menjawab dengan pelan mungkin karena takut terdengar oleh orang rumah. Malam itu menjadi malam yang sangat indah bahkan senyumannya selalu merusak setiap usahaku untuk tidur.
Keesokan harinya aku kembali bersiap-siap untuk ke kampus,tapi kali ini tidak lagi berpakaian seperti orang gila. Bergegas mandi dengan penuh semangat bahagia,mengenakan pakaian yang menjadi pakaian andalanku,pakaian yang setiap ku kenakan selalu merasa percaya diri. Aku selalu mau tampil sempurna dihadapan afkin,aku selalu berharap bisa melihatnya lagi di kampus. “Hei sama siapa?” Harapanku tidak hanya sekedar harapan pagi itu afkin kembali menyapaku di dekat parkiran kampus “hei sama sepupuku kak” aku menjawab dengan sedikit salah tingkah “ooohhh. Tungguin aku yah,kamu ke bawah pohon dulu di sana ada anak-anak kok” bawah pohon ternyata memang tempat berkumpul afkin bersama teman-temannya “iya kak nanti aku kesana” menjawabnya dengan sedikit senyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar