Tepat pukul 3 pagi langit seketika menjadi indah karena
warna-warni kembang api,kantuk yang tadi menyelimuti mata seketika hilang
berubah menjadi semangat,tepat pukul itu juga berakhirnya masa orientasi siswa
di sekolah tinggi tempatku kuliah dan aku resmi menjadi salah satu mahasiswinya
yang insya allah 3,5 tahun kedepan bergelar S.Kom!
“maaf yah dik kalau ada kata maupun tingkah yang sedikit
keras” kata ini terdengar dari setiap ucapan senior,mahasiswa baru hanya bisa
tersenyum entah itu senyuman benci atau senyum bahagia. Setelah berjabat tangan
dengan setiap senior yang berdiri berbaris memenuhi lapangan basket tempat
penutupan ospek,saatnya mahasiswa mahasiswi baru bubar bersiap untuk pulang
bersama kaos kaki yang lain sebelah warnanya,tas dari kantong plastik
merah,kemeja putih,celana panjang dan topi dari piring plastik berwarna kuning
gading.
Aku berjalan sendiri menuju gerbang dan tepat di bawah pohon
dekat gerbang berkumpul semua senior yang berasal dari daerahku. “afkin”
seketika hatiku degdegan mengucap namanya,dia adalah sosok yang selama ini ku
sebut botak,dia yang selama ini menyiksa mengurung setiap kerinduan yang
hadir,dia yang selama dua tahun setelah berpisah selalu meenjadi isi dalam
setiap doaku,dia yang kupuja dalam pemendaman,dia yang selalu hadir di setiap
hariku,senyumnya yang indah,tuturnya yang lembut,tatapannya yang tajam.
“Hei dari tadi aku melihatmu duduk di sana” ucap afkin
dengan senyumannya,”hei masa kak?! Kamu dari tadi di sini?” aku menjawab sambil
berusaha menahan gugupku. Teman-temannya mulai ngeledekin afkin melihat dia
berbicara denganku. Dia mengajakku duduk ikut berkumpul dengan
teman-temannya,hatiku meronta bahagia bahagia sekali. “Kamu pulang sama siapa?”
kakak kelasku sewaktu SMA itu kembali bertanya,dengan cepat aku menjawab “ga
tau kak nanti sama siapa” aku berucap seperti terburu-buru mungkin karena
sedang degdegan. “cieeeee.... anterin tuh” “ modussss cieee” Ledekan lagi-lagi
terdengar dari teman-teman afkin yang juga menjadi seniorku. “aku yang
anterin,boleh? Ga papa sama orang rumahmu?” afkin bertanya dengn
menatapku,tatapan yang selama ini aku rindukan “terserah kamu kak,orang di
rumah juga ga papa” aku dengan tersirat menerima tawarannya.
Tidak lama kemudian aku bergegas pulang bersama mantan
kekasihku itu,tidak ada pembahasan dalam perjalanan,kaku dan hampa. “Makasih
yah kak” aku turun dari motornya tepat di depan rumah “iya aku balik yah” afkin
menjawab dengan pelan mungkin karena takut terdengar oleh orang rumah. Malam
itu menjadi malam yang sangat indah bahkan senyumannya selalu merusak setiap
usahaku untuk tidur.
Keesokan harinya aku kembali bersiap-siap untuk ke
kampus,tapi kali ini tidak lagi berpakaian seperti orang gila. Bergegas mandi
dengan penuh semangat bahagia,mengenakan pakaian yang menjadi pakaian
andalanku,pakaian yang setiap ku kenakan selalu merasa percaya diri. Aku selalu
mau tampil sempurna dihadapan afkin,aku selalu berharap bisa melihatnya lagi di
kampus. “Hei sama siapa?” Harapanku tidak hanya sekedar harapan pagi itu afkin
kembali menyapaku di dekat parkiran kampus “hei sama sepupuku kak” aku menjawab
dengan sedikit salah tingkah “ooohhh. Tungguin aku yah,kamu ke bawah pohon dulu
di sana ada anak-anak kok” bawah pohon ternyata memang tempat berkumpul afkin
bersama teman-temannya “iya kak nanti aku kesana” menjawabnya dengan sedikit
senyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar