Senin, 15 Juni 2015

dalam diam



Dalam diam
Dia yang kusebut botak,dia yang kusebut bahagiaku

Dia yang dulu hanya sebatas kakak kelas,semakin lama menjadi teman smsan tengah malam,sempat menghilang bahkan tidak ada komunikasi samasekali lalu kembali menjadi seseorang yang selalu ada disetiap malamku,selalu mengisi inboxku. “ada yang hilang by ipang” hpku berdering sms dari dia untuk pertama kalinya setelah tidak ada komunikasi,dengan lincahnya dan bingung aku membalas “maksudnya apa kak?” “kamu tau lagunya ipang? Ada yang hilang? Ku kira kamu sudah tidak ada lagi,ku kira kamu sudah lupa denganku” balasan sms dari dia membuatku semakin penasaran dengan lagunya ipang..
Hari demi hari bulan demi bulan berhubungan melalui hp dan semakin dekat menjadi seseorang yang sangat berarti dalam hatiku,malam tahun baru menjelang 2013 untuk pertama kalinya dia bertamu ke rumah dan untuk pertama kalinya juga aku melihatnya karena selama menjadi kakak kelasku aku tidak pernah melihatnya. “dari mana kak? Dari apelin pacar?” ucapku untuk mengurangi rasa gugupku “dari rumah langsung ke sini,tadi habis tidur” balasnya sambil tersenyum kecil. Aku mempersilahkannya duduk,menawarkan minum dan cemilan,tidak panjang lebar perbincangan kita “aku pulang dulu yah” ucap afkin kakak kelasku itu “pulang? kenapa cepat sekali?” aku tetap berusaha menghilangkan rasa dagdigdugku “aku mau ke rumah temen dulu,kamu jangan marah yah” afkin juga tetap dengan senyumnya setiap menjawab pertanyaanku
2 januari 2013 hari itu menjadi hari yang sangat bahagia,dia mengungkapkan rasanya dan memintaku untuk menjadi kekasihnya tanpa memberi waktu lagi aku menerima untuk menjadi wanitanya. Hari-hariku terasa bahagia “Pagi soimah sayang” pesan singkat itu yang selalu menjadi sapaan dipagi hariku,dia menyebutku soimah karena sebelum sedekat itu “masalah buat loh” menjadi ciri khasku. Disetiap smsan aku selalu meminta agar dia tetap menjadi bahagiaku,tetap menjadi botakku sampai kapanpun itu.  Aku memanggilnya botak karena seringnya dia curhat soal kepalanya yang botak akibat ulah seniornya waktu menjadi maba disalah satu sekolah tinggi di Makassar
Jarak diantara kita selalu menjadi alasan kerinduan,dia yang kuliah di makassar sedangkan aku masih di Bone menjalani hari-hariku sebagai anak sekolah. “soimah rindu,botak” pesan singkat yang ku kirim ke nomor handphonenya “aku sayang kamu,aku juga rindu” balasan  darinya membuatku semakin rindu yah meskipun dibalasnya lama. Keesokan harinya,”nomor yang anda tuju sedang tidak aktif” setiap ku hubungi selalu kalimat itu yang ku dengar,sekitar 5 jam kemudian hpku berbunyi “kamu di mana?” pesan dari afkin yang membuat kekhawatiranku sedikit berkurang,”di rumah,kamu dimana? Dari tadi nomormu ga aktif?!” balasku dengan sedikit emosi. Hpku kembali berdering tanda ada sms yang masuk “aku di bone soimah,katanya kamu kangen” aku tersenyum membaca balasan sms darinya. Saat bertemu dengannya tidak ada kata yang bisa kuucapkan,tangan dingin,dada dagdigdug yah aku hanya bisa tersenyum.  “tanganmu kenapa dingin?” pertanyaannya semakin membuatku degdegan “ga tau,aku kok kenapa degdegan gini yah?!” balasku sambil berusaha menenangkan diri. “udah kamu santai aja ketemu aku” dia sedikit bercanda dan melanjutkan memakan bakso di warung bakso depan SMP 1.
Sebulan hubungan kita sudah terlewati dengan susah senangnya yah susahnya yaitu kita sering bertengkar kecil karena dia yang setelah sebulan mulai sedikit kurang waktunya untuk berbagi kabar entah mungkin karena dia kuliah atau kesibukan lainnya. “One two three for five six seven eight” bulan februari aku disibukkan dengan latihan dance persiapan DBL,satu-satunya yang menjadi penyemangatku yaitu afkin dia selalu saja memberiku kejutan dengan datang ke bone tanpa bilang-bilang. Awal maret aku berangkat ke Makassar bersama rombongan pemain basket SMAN Watampone,di hari pertama tanding aku tidak melihat pemilik senyum indah itu entah dia di mana. Di hari kedua setelah tanding dia menungguku diparkiran dekat mobil yang ku tumpangi ke gor andi mattalatta dia tersenyum dan didepan teman-temannya dia menggenggam erat tanganku yang seperti biasa setiap ketemu dengannya selalu tangan menjadi dingin,”Kamu lebih cantik natural daripada makeup seperti ini” ucapnya sambil menatapku tajam yah aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya. Seminggu di makassar,saatnya pulang ke bone

Sebulan hubungan kita sudah terlewati dengan susah senangnya yah susahnya yaitu kita sering bertengkar kecil karena dia yang setelah sebulan mulai sedikit kurang waktunya untuk berbagi kabar entah mungkin karena dia kuliah atau kesibukan lainnya. “One two three for five six seven eight” bulan februari aku disibukkan dengan latihan dance persiapan DBL,satu-satunya yang menjadi penyemangatku yaitu afkin dia selalu saja memberiku kejutan dengan datang ke bone tanpa bilang-bilang. Awal maret aku berangkat ke Makassar bersama rombongan pemain basket SMAN Watampone,di hari pertama tanding aku tidak melihat pemilik senyum indah itu entah dia di mana. Di hari kedua setelah tanding dia menungguku diparkiran dekat mobil yang ku tumpangi ke gor andi mattalatta dia tersenyum dan didepan teman-temannya dia menggenggam erat tanganku yang seperti biasa setiap ketemu dengannya selalu tangan menjadi dingin,”Kamu lebih cantik natural daripada makeup seperti ini” ucapnya sambil menatapku tajam yah aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya. Seminggu di makassar,saatnya pulang ke bone

Setelah berbulan-bulan bertahun-tahun aku tidak berhubungan lagi dengan afkin dan selama itu juga disiksa oleh rindu,disiksa oleh cemburu setiap kali mendengar kabarnya dari orang lain bahwa dia dekat dengan wanita lain. Senyum indahnya,lembut tuturnya,mata indahnya,kejutan-kejutannya selalu mengganggu disetiap hariku.
suatu hari aku menghadiri satu acara di gedung PGRI Bone,acara yang dilaksanakan oleh salah satu organda kampus tempat afkin kuliah. dagdigdug entah kenapa malam itu jantungku berdebar kencang lagi seperti awal bertemu kakak kelasku itu. “Hei kamu datang sama siapa?” ucap sosok yang 2 tahun lalu selalu membuatku degdegan “hei sama sepupuku kak” aku menjawab sedikit kaku karena gugup,malu dan bahagia. Dia mempersilahkanku masuk,mencarikan tempat duduk untukku. “Tuhan kenapa harus ketemu dengannya lagi? Sudah cukup usahaku melupakannya 2 tahun ini,sudah cukup aku tersiksa menahan rasaku tuhan.” Aku berkomatkamit dalam hati. Sekarang aku kuliah di sekolah tinggi tempat afkin juga kuliah,dia menjadi seniorku,untuk kuliah di tempat yang sama dengannya memang bukan hal yang mudah. Bukan hal yang mudah harus bertemu dengan orang yang selama ini berusaha aku lupakan,berusaha menghilangkan rasa untuknya. Bukan hal yang mudah merindu dalam diam sampai hanya bisa menangis untuk merasa lega,melawan cemburu ketika mendengar kabarnya telah bahagia dengan wanita lain,aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa menyentuhnya,aku hanya bisa menikmati senyumnya dari jauh,mendengar suaranya saat berbicara dengan temannya bukan denganku.untuk kembali menjalin hubungan dengannya mungkin adalah satu hal yang mustahil tapi aku percaya Tuhan tidak akan menyimpan rasa yang amat besar di hatiku untuknya tanpa alasan. Mungkin Tuhan belum cukup puas melihatku bersabar menahan rasaku sampai saatnya ia mengembalikan afkin padaku,namun jika memang afkin bukan untukku lagi aku yakin tuhan pasti menghapus perasaanku.

                                                                                                                        SOIMAH :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar